AGROINDUSTRI JADI PRIMADONA

Oki Baren & Rafdi N El-Hasan
Sektor agroindustri membukukan kontribusi terbesar pada pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal ketiga 2007 dan tetap menjadi andalan pada 2008.
(Ist)

INNChannels, Jakarta � Sektor pertanian menyumbang 1,3% dari total 6,5% pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2007. Wajar jika agroindustri menjadi primadona untuk menggerakkan roda perekonomian nasional 2008.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan semua sektor ekonomi tumbuh pada kuartal ketiga 2007. Dan, dibandingkan triwulan sebelumnya, pertumbuhan terbesar terjadi di sektor pertanian, yakni 10,2%. Pertumbuhan itu terutama dipasok produk agroindustri, yakni 33,7%.

HS Dillon, Direktur Eksekutif Centre for Agricultural Policy Studies, menyatakan, sektor agroindustri akan selalu konsisten dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi, tak terkecuali untuk periode 2008.

Agroindustri, menurut Dillon, termasuk sangat primer dan penting. Hanya saja, kata Dillon, keliru jika memberikan kesan bahwa Indonesia sudah meraih nilai tambah.

�Agroindustri dari sisi kepentingan pengusaha, tentu, sangat bagus. Sejauh ini tidak ada faktor yang bisa menurunkan harga dari produk-produk industri itu,� kata Dillon kepada INNChannels baru-baru ini.

Dillon berpendapat, selama sumber energi alternatif yang lain belum tersedia, kebutuhan energi saat ini mulai melirik komoditi yang bersumber dari tumbuhan. �Karena itulah prospeknya sangat bagus. Apakah rakyat bisa menikmatinya, itu soal lain,� ujarnya.

Didik J Rachbini, ekonom yang juga anggota Fraksi Partai Amanat Nasional DPR RI, mengatakan, sektor agroindustri relatif lebih baik karena permintaan dunia sangat tinggi.

�Harga jagung, kedelai, minyak sawit, karet, dan yang lain relatif naik. Bahan baku untuk energi saat ini juga sedang dicoba dari agro. Jadi, pengkonsumsinya bukan hanya manusia, tapi juga motor, mobil, dan lainnya,� kata Didik.

Gandhi Sulistiyo, Komisaris Sinar Mas Group pemilik anak perusahaan PT Sinar Mas Agro Resources yang bergerak di bidang agroindustri, meyakini prospek agroindustri secara umum sangat bagus.

Karenanya, Gandhi berani berekspektasi pertumbuhan sektor agrobisnis mencapai 14% hingga 20%. �Permintaan pasar dunia terhadap produk-produk berbasis agrobisnis juga kian meningkat. Ini sebuah anugerah,� kata Gandi.

Sementara Pande Radja Silalahi, ekonom Senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS), menyatakan, sektor agroindustri tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

�Sektor agroindustri merupakan sektor strategis. Pemerintah mestinya lebih memberi perhatian kepada sektor agroindustri,� tukas Pande. Fokus perhatian itu utamanya untuk mendorong penguatan kinerja sektor agroindustri.

Harapan itu, memang, sepatutnya menjadi harapan bersama. Pemerintah, memang, sepatutnya lebih berani memposisikan sektor agroindustri sebagai andalan dalam upaya mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Sentra industri pulp dan kertas di Riau yang terancam tutup karena pasokan bahan baku kayu yang tersendat, misalnya, jelas harus segera mendapatkan perhatian.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) memprediksi, industri pulp dan kertas di Provinsi Riau hanya mampu bertahan setahun.

Memang, ada solusi alternatif. Seperti kata Ketua APKI M Mansyur, impor bahan baku kayu dari Australia bisa menjadi pilihan yang bisa dipertimbangkan agar industri pulp dan kertas di Riau tidak sampai gulung tikar. Tapi, impor bahan baku akan menyebabkan harga pulp dan kertas asal Indonesia melonjak sehingga menjadi kurang kompetitif.

�Kebijakan impor bahan baku sama saja dengan menghancurkan industri pulp di Indonesia,� tambah M Mansyur.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah mengais pasokan kayu di dalam negeri meski dengan risiko kembali menjadi persoalan.

Menurut Aryan Warga Dalam, Direktur Industri Hasil Hutan dan Selulosa Departemen Perindustrian, industri pulp masih bisa bertahan karena harga pulp dunia terus meningkat mendekati kisaran US$ 700 per ton.

Aryan menjelaskan, �Situasinya memang tidak bagus. Tapi, peluang industri pulp untuk bertahan masih tinggi karena pertumbuhan harga pulp dunia.�

Harga pulp di pasar dunia bulan ini bergerak di kisaran US$ 600 hingga US$ 700 per ton akibat perkembangan produksi perusahaan dunia menurun. Pada awal tahun, harga pulp masih US$ 500 per ton.

Di beberapa wilayah seperti Asia, Amerika Serikat, dan Eropa, harga pulp masing-masing berkisar US$ 550 per ton, US$ 700 per ton, dan US$ 650 per ton. Porsi kenaikan harga pulp dunia antara US$ 10 per ton hingga US$ 30 dolar per ton dibandingkan April. Kini, produksi pulp di Amerika Utara tersendat karena restrukturisasi industri pulp dan kertas secara besar-besaran.

Semua itu, tentu, perlu lebih dicermati oleh pelaku agroindustri maupun pemerintah. Ini penting agar agroindustri bisa terus menjadi primadona penggerak perekonomian nasional. [E1/I3]

by: http://www.inilah.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s